10 Dirham

Apa yang menjadi penyebab kesediaan Hubaib Abi Muhammad menghadapi kematian adalah kehadirannya di majelis ilmu Hasan al-Basry. Di mana nasihatnya itu berhasil merasuk ke dalam relung-relung hati sanubarinya. Sehingga Hubaib meninggalkan segala apa yang dilakukannya selama di dunia ini. Karena, dia yakin kepada Allah dan puas dengan jaminan-Nya.

Kemudian, Hubaib Abi Muhammad membeli dirinya dari Allah dengan berderma sebanyak empat puluh ribu dirham dalam empat kali :

Pertama, sepuluh ribu dirham dimulainya dipagi hari, saat dimulainya kehidupan ini, seraya dia berkata, “Wahai Tuhan, dengan derma ini aku beli diriku dari-Mu”.

Kedua, sepuluh ribu dirham saat di siang hari, dan seraya dia bekata , “Derma ini sebagai ungkapan syukur atas taufik-Mu kepadaku”.

Ketiga, sepuluh ribu dirham pula, diwaktu menjelang sore hari, seraya dia berkata, “Wahai Tuhan, jika Engkau belum mau menerima dermaku yang pertama dan yang kedua itu, maka terimalah yang ketiga ini”, do’anya.

Keempat, juga sepuluh ribu dirham saat menjelang petang, seraya dia berkata, “Wahai Tuhan, jika Engkau menerima yang ketiga itu, maka inilah derma yang keempat sebagai ungkapan rasa syukur”, tambahnya.

Sejak itu, Hubaib tak pernah lagi memikirkan harta yang dimilikinya, dan dia selalu tak pernah melupakan hubungannya dengan Allah Ta'ala, dan beribadah siang dan malam, sampai saat ajalnya tiba, di malam hari, dan tidak ada yang tahu, ketika dia meninggal.

Wajah Hubaib tersenyum, ketika para shahabat menjenguknya. Hubaib meninggal dengan meninggalkan dunia (harta) yang selama ini menghalanginya mengingat kepada Allah. Wallahu’alam.

Trilogi Semar


Versi Semar

Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.

Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa.

Dalam versi Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.

Dalam versi Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.

Dalam versi Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.

Dalam versi Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.

Istimewanya Semar

Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.

Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.

Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah - yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar - mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.

Sayembara : Semar,Togog dan Batara Guru

Pada zaman kadewatan diceritakan Sanghyang Wenang mengadakan sayembara untuk memilih penguasa kahyangan dari ketiga cucunya yaitu Batara Antaga (Togog), Batara Ismaya (Semar) dan Batara Manikmaya (Batara Guru). Untuk itu sayembara diadakan dengan cara barang siapa dari ketiga cucunya tersebut dapat menelan bulat-bulat dan memuntahkan kembali Gunung Jamurdipa maka dialah yang akan terpilih menjadi penguasa kahyangan. Pada giliran pertama Batara Antaga (Togog) mencoba untuk melakukannya, namun yang terjadi malah mulutnya robek dan jadi dower karena Togog salah menelan gunung yang sedang aktif dan mendadak meletus ketika gunung tersebut berada di dalam rongga mulut Togog. Giliran berikutnya adalah Batara Ismaya (Semar) yang melakukannya, Gunung Jamurdipa dapat ditelan bulat-bulat tetapi tidak dapat dikeluarkan lagi karena Semar tidak bisa mengunyah akibat giginya taring semua, dan jadilah Semar berperut buncit karena ada gunung didalamnya seperti dapat kita lihat pada karakter Semar dalam wayang kulit. Karena sarana sayembara sudah musnah ditelan Semar maka yang berhak memenangkan sayembara dan diangkat menjadi penguasa kadewatan adalah Sang Hyang Manikmaya atau Batara Guru, cucu bungsu dari Sang Hyang Wenang.

Adapun Batara Antaga (Togog) dan Batara Ismaya (Semar) akhirnya diutus turun ke marcapada (dunia manusia) untuk menjadi penasihat, dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan pada manusia, yang pada akhirnya Semar dipilih sebagai pamong untuk para satria berwatak baik (Pandawa) dan Togog diutus sebagai pamong untuk para satria dengan watak buruk.

Sepintas Lalu

Fenomena manusia berlumba-lumba membuat ibadah sunat di malam hari tiba kembali.Kelibat manusia keluar masuk sebuah bangunan yang sederhana besar ketara kelihatan.kelihatan segolongan manusia duduk di tepi bangunan tersebut menantikan sesuatu.Wal hal segolongan manusia lagi sedang sibuk membaca dengan alunan suara yang tersendiri.Senario ini amat dekat dengan hamba Allah ketika ditutup pintu-pintu neraka dan dibuka pintu-pintu syurga.Inilah bulan yang penuh dengan barakah didalamnya iaitu Ramadhan al mubarak.

Bersimpuh aku dihujung malamnya ditemani angin dingin yang terhasil dari pusingan kipas angin.Pemikiran aku terbawa-bawa dengan kejadian tempoh hari selepas terjaga dari lena.Waktu ketika itu menunjukkan pukul dua pagi. Bergegas mencari telefon mudah alih dan aku melihat ada pesanan ringkas dihantar di telefon ku. apabila dibuka aga terkejut aku dengan penghantarnya menanyakan keadaan aku. Baru sebentar tadi aku melihat dia dalam keadaan mimpi.

Pesanan ringkas kami balas membalas buat seketika. Sedikit daripada cerita si penghantar bermimpikan aku dalam tidurnya dalam keadaan membisu. Barangkali terdetik di hatinya untuk menetahui keadaan sebenar aku membuatkan si penghantar memberi pesanan ringkas ke telefon ku. Sememangnya keadaan perasaan aku ketika ini agak kurang kestabilannya. Namun, aku rahsiakan untuk sebab-sebab yang aku pendam sendiri. sebaliknya aku berkongsikan dengannya keadaan ini.

Perkiraan aku keadaan ini berlaku mungkin kerana asbab petunjuk Ilahi yang berhikmah. Dalam keadaan aku yang terumbang ambing dengan masalah dunia bercampur aduk dengan bermacam ragam perasaan memerlukan sokongan dan dampingan. Terpaku aku bile teringat kembali kejadian itu. Sejak keadaan itu datang menyapa rintihan rohani yang tidak terbendung saban hari, terasakan ade sesuatu perasaan menggamit segenap jiwa. Sedih,syahdu dan semakin rendah serta hinanya diri jika sesekali aku alpa dan berpaling padaNya.

Ramadhan kali ini aku tempuh dengan begitu sederhana. Jamuan yang aku jamah tidak seperti mahunya dahulu. Sekadar cukup mengisi perut. Harapan bukan lagi satu pilihan utama. Hari-hari yang mendatang aku jalani seperti biasa walaupun cukup perit dengan liku-likuannya.Pada Allah aku panjatkan doa. Istiqamah menyusuri perjalanan ku.

Keluarga Manusia

Sumber : kawansejati.ee.itb.ac.id/pohon-keturunan-manusia /Qishashul Anbiya' karya Ibnu Katsir/Shirah Nabawi karya Ibnu Hisyam ditambah bacaan-bacaan tentang migrasi bangsa-bangsa, sejarah proto-melayubentuk fizikal, kebudayaan dan bahasa-bahasa yang dipergunakan bangsa-bangsa tersebut

Menurut hadis-hadis Nabi s.a.w dan atsar para sahabat, juga ilham yang diterima ulama-ulama terutama kalangan tabi'in, yang masyhur adalah: Nabi Nuh berputera 6 orang. Setelah banjir besar, tiga orang puteranya (beserta keturunannya yang juga ikut di kapal) selamat. Merekalah yang menurunkan bangsa-bangsa di dunia saat ini. Menurut Imam Ibnu Katsir dan beberapa ulama lainnya, semua manusia selain yang di kapal mati tersapu banjir.

Putera Nabi Nuh a.s yang bernama Yafits menurunkan bangsa-bangsa kaukasia (nama ini diambil dari pegunungan kaukasus), saat ini lebih kurangnya diwakili oleh bangsa Rusia, Finlandia, Norwegia. Cirinya, badan tinggi besar, tulang-tulang kuat, kulit putih, rambut lurus kuning jagung (malah sampai alis mata juga kuning), hidung mancung dan tinggi raut muka agak kasar. Selain ras kaukasoid, Yafits juga menurunkan bangsa Ya'juj dan Ma'juj. Cirinya lebih kurang sama. Hanya saja tinggi Ya'juj Ma'juj ini hanya seukuran pinggang saudara-saudaranya. Mungkin sekitar 130 cm. Badan kekar, telinga besar dan ganas. Bangsa ini sudah hilang, "disimpan" oleh Raja Dzulqarnain di antara gunung-gunung untuk nanti di akhir zaman sudah dijanjikan akan keluar dan memakan apapun yang ada di dekat mereka. Legenda berbentuk cerita-cerita rakyat kuno tentang bangsa ini (ya'juj ma'juj) dapat kita temui pada cerita Jerman dan Norwegia kuno, yaitu "dwarf" atau kurcaci. Kosakata 'dwarf' ini berasal dari bahasa eropa kuno. Selain itu, menurut sebagian ulama, Yafits juga menurunkan bangsa Cina.

Putera Nabi Nuh yang bernama Ham, menurunkan bangsa-bangsa yang berkulit hitam, yaitu bangsa Qibti (Egypt = Mesir) dan bangsa Sudan (ini mencakup seluruh kaum kulit hitam di Afrika). Bangsa Qibti adalah penduduk asli Mesir. Memang dari awal sudah diperintah ayahnya untuk menuju ke barat dan menetap di DAS Nil. Contoh ras asli Qibti adalah mantan Presiden Mesir Anwar Sadat. Kalau Hosni Mubarak sudah tercampur ras Arab. Bangsa Qibti ini kulitnya coklat gelap, rambut agak keriting hingga keriting sekali dan perawakan aslinya tidak besar, alias sederhana. Dari bangsa inilah Firaun dan Hamman berasal. Saudara bangsa Qibti, yaitu bangsa Sudan berkulit hitam dan rambut sangat keriting. Perawakannya bervariasi, tapi sebagian besarnya tegap-tegap dan tenaga mereka kuat. Mereka menempati benua Afrika. Tidak semua keturunan Ham menempati benua Afrika. Sebagian keturunannya diperintahkan bergerak ke timur sejauh-jauhnya. Mereka awalnya menempati tempat yang sekarang bernama Nusantara ini untuk kemudian tergeser makin ke timur, terdesak oleh pendatang baru yaitu sub ras Melayu. Sekarang mereka berada di Papua dan Australia.

Putera Nabi Nuh yang bernama Sam menurunkan sebagian besar bangsa-bangsa Asia sekarang. Awalnya keturunan beliau menempati daerah di sekitar sungai Eufrat dan Tigris dan utara dan selatan Jazirah Arab. Contoh bangsa-bangsa kuno keturunan beliau adalah bangsa 'Aad di Hadhramaut Yaman (sudah dimusnahkan ALLAH), bangsa Tsamud di barat laut jazirah Arab, dekat Tabuk (sudah dimusnahkan), bangsa Kaldean (bangsa asal Nabi Ibrahim a.s), bangsa Sumeria dan bangsa-bangsa Arab kuno seperti Jurhum dan Amaliq. Ciri keturunan Sam adalah kulit terang (putih kemerahan hingga sedikit coklat), rambut warna coklat atau kemerahan gelap, wajah lonjong, tinggi tubuh dari sederhana hingga tinggi, tapi biasanya tidak setinggi keturunan Yafits. Dari segi perawakan, mungkin keturunan Sam inilah yang paling bagus. Yang laki gagah-gagah dan yang perempuan cantik-cantik.

Salah seorang keturunan Sam, Nabi Ibrahim a.s bermigrasi dari tempat tinggal asalnya di daerah antara dua sungai Eufrat dan Tigris (ada yang menyebutkan di Ur). Beliau ini banyak menurunkan bangsa-bangsa di dunia yang ada sekarang. Keturunannya menjadi penguasa-penguasa dunia. Dari putera tertua, Nabi Ismail, beliau menurunkan bangsa Arab Musta'ribah. Cirinya kulit putih, rambut kemerahan dan bagus-bagus rupa fisiknya. Di antaranya adalah suku Quraisy.

Dari putera yang kedua, Nabi Ishaq, Nabi Ibrahim memperoleh dua cucu, Al Aish (Essau) dan Ya'kub (Jacob, kemudian Tuhan menamakannya Israil). Al Aish menikah dengan sepupunya, yaitu anak Nabi Ismail. Al Aish ini perawakannya besar, tegap dan badannya berambut banyak. Darinya muncul bangsa Aria yang awalnya menempati daerah di sekitar hulu sungai Eufrat, kemudian sebagian bermigrasi ke Asia Tengah, terus masuk ke Sungai Oxus (Khurasan) dan kemudian berkembang menjadi bangsa Persia. Sebagian meneruskan migrasinya hingga ke Lembah Sungai Indus dan menaklukkan keturunan Ham yang tinggal di sana (Mohenjo Daro dan Harappa). Kemudian mereka menjadi bangsa India kasta tinggi (Brahmana dan Ksatria). Sebagian bangsa Aria bermigrasi ke barat menempati tanah yang sekarang dinamai Yunani. Dari situ mereka terus bergerak ke barat menempati Italia (bangsa Romawi) hingga pantai Normandia. Selama migrasi ini terjadi percampuran dengan keturunan Yafits menghasilkan bangsa-bangsa Eropa Tengah. Lihat, bahasa asli Aria Sanskrit (bentuk tertingginya adalah bahasa yang digunakan kitab Weda) amat dekat dengan bahasa-bahasa Latin dan juga bahasa Inggris. Begitu juga dewa-dewa mereka. Serupa.

Dari Nabi Ya'kub diturunkan Bani Israil atau yang sekarang kita sebut sebagai yahudi. Semuanya ada 12 suku mewakili 12 anak lelaki Nabi Ya'kub dari empat istri (Nabi Ya'kub juga punya satu anak perempuan). Keturunan Ya'kub ini kemudian bermigrasi ke Mesir mengikuti Nabi Yusuf yang menjadi bendahara kerajaan. Sekitar 400-500 tahun kemudian, mereka diperbudak oleh Firaun. Maka Tuhan mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk membebaskan mereka dan membawa mereka kembali ke tanah moyang mereka, Nabi Ya'kub, yaitu Baitul Maqdis. Nabi Musa tidak sampai membawa mereka masuk Baitul Maqdis. Tapi akhirnya mereka masuk juga di bawah pimpinan Nabi Yusya'. Kerajaan mereka mencapai puncaknya di zaman Nabi Sulaiman. Kemudian silih berganti hancur, bangun, hingga dihancurkan sama sekali oleh Kaisar Titus dari Romawi tahun 70 M. Sekitar 19 abad kemudian mereka membangun kembali negeri mereka yang dinamakan Israel.

Rumah ibadah pertama di muka bumi ini adalah Ka'bah di lembah Bakkah (Makkah) yang dibangun Nabi Ibrahim dan yang kedua adalah Baitul Maqdis di Yerusalem sekarang, yang dibangun oleh Nabi Ya'kub.

Menurut kitab-kitab, Nabi Ibrahim memiliki tiga istri, Sarah (bangsa Kaldean), Hajar (bangsa Qibti) dan satu lagi Qanthura (Keturah). Besar kemungkinan Qanthurah ini dari bangsa asia timur karena Nabi Muhammad s.a.w menyebut "Bani Qanthurah" untuk orang-orang Mongol. Dari Qanthurah beliau memperoleh enam anak. Ada yang menjadi bangsa Madyan (dimusnahkan ALLAH) di timur Sinai, dan menurut beberapa orang sebagian keturunannya diperintahkan terus bermigrasi ke timur. Jejak-jejaknya dapat ditelusuri hingga tibet, kapilawastu di India dan kemudian mereka bermigrasi (mungkin) melalui laut dan menduduki Nusantara. Sebagian terus migrasi ke timur dan bercampur dengan keturunan Ham yang lebih dahulu menduduki pulau-pulau Pasifik. (Mungkin) mereka inilah nenek moyang kita, sub ras Melayu.